Pages

Minggu, 22 September 2013

Back to Slow Food



Berdiam diri di dapur ternyata tidak mudah, apalagi jika setiap hari kita harus menguras kreativitas untuk bisa mencipta new menu buat sajian makan pagi, siang, dan sore. Walau tidak bisa dipungkiri saya sendiri bisa enjoy, berkreasi dan merasa bangga jika masakan diterima oleh lidah orang-orang disekitar kita. Awalnya tak pernah terpikir untuk bisa jadi jagoan dapur, tapi setelah menjalaninya, setelah mencoba seharian di dapur, setelah mencoba menghabiskan waktu seharian hanya untuk belanja, searching menu dan bereksperimen, saya memutuskan untuk selalu menjadi yang terbaik sekalipun itu hanya di dapur.


Slow food sempat menjadi isu yang menarik dan digembor-gemborkan oleh sebagian orang demi tercipta kesehatan sebagai aset masa depan, akan tetapi seiring berjalannya waktu ternyata produk fast food menjadi produk yang banyak diminati oleh generasi masa kini. Jajanan dan makanan yang berceceran di mall atau dipinggir jalan banyak sekali menyajikan fast food yang kapan saja bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Sedikit banyaknya sudah terjadi dampaknya disaat ini, mulai dari bermunculan penyakit aneh-aneh, namanya tak dikenal, virusnya yang tak terjangkau, sehingga muncul anggapan bahwa salah satu pemicunya adalah akibat mengkonsumsi fast food karena pada zamannya mbah-mbah kita dahulu, orang tua terdahulu kuat-kuat dan jago-jago karena makanan yang mereka konsumsi sangatlah slow food, untuk menghasilkan satu mangkuk nasi saja butuh beberapa tahapan mulai dari mengeringkan gabah, menumbuk, dan memasak nasi dengan waktu yang tidak sebentar. 

Tetap saja dampak yang diakibatkan karena mengkonsumsi makanan fast food dan berpestisida plus MSG tidak menjadikan masyarakat sadar untuk beralih ke makanan yang lebih sehat dengan cara yang sehat. Karena aktivitas yang cenderung padat dengan tingkat teknologi tinggi membuat masyarkat lebih memilih yang instan-instan saja. Terbukti di salah satu pusat perbelanjaan di kota Bogor sebut saja Jogya Juntion sejak 16  September 2013 sampai senin (30 September 2013) terselenggara food festival dengan konsep better and fast, padahal baru saja saya bincang dengan kawan di asrama betapa tidak mudahnya untuk bisa menyajikan makanan yang sehat dan menyehatkan. Tapi impian untuk punya rumah yang dikelilingi dengan sayuran organic, rempah, dan padi organic juga tidak akan tetap surut walau masakan fast food tersedia di setiap belokan dan sedikit banyaknya menggoda hasrat untuk mencicipi. 

Satu produk yang menarik buat saya adanya bumbu instan untuk masakan level internasional yang mengangkat makanan khas setiap negaranya. Baru kemarin saya berfikir betapa mudahnya untuk mencipta masakan dengan menu yang bervareatif karena maraknya bumbu instan mulai dari rendang, semur, racik tempe, sop, asem, lodeh, dan lain-lain sehingga memudahkan setiap insan yang tidak terbiasa memasak. Tapi tetap yang instan dan mudah belum tentu sehat, dan terlebih belum tentu enak karena bumbu yang diracik dengan tangan sendiri akan punya khas tersendiri.
  C'mon Back to Slow Food for Healthy....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar