Pages

Selasa, 07 Januari 2014

Menjajak Pantai Perawan di Tulungagung “Sanggaria Beach”

Hari ini aku merasa semakin dewasa, tapi bukan berarti aku menjadi orang yang selalu siaga kala rintangan melanda. Aku hanya semakin merasa jika tanggungjawab ini tak lagi mudah dan simple seperti hari kemarin.

“Tak hanya Sanggaria Beach yang bisa dapat julukan pantai yang masih perawan, cintaku pun masih perawan-karna cintaku kini hanya akan ku berikan saat Ijab dan Kabul tertunaikan”

Menjajak Pantai Perawan di Tulungagung “Sanggaria Beach”

Before, I wanna to introduce one of the community of natural Lover from Kediri. You can to call “PEACE’K”-PECINTA ALAM CAH KEDIRI- they come from Kediri youth, and have a motto “Daripada Mlecur lebih baik Mbolang”. They always to do travel for have fun and get firm of relationship. Not only They get travel to beach, but also they get travel to mountain and small island. They usually do travel with motorcycle and foot of course. Before They go to visit one place, They collect amount of money for buying something which They need while travel. So They have same eating, drinking, and faciliting to sleep. I’m so happy when I follow them for visit Sanggaria Beach for close year’s 2013 and celebrate new year 2014. Thank you so much….

Siang itu, ba’da dzuhur di Kampung Inggris, Tiga orang calon pribadi sukses menuju ke meeting point-Kota Kediri, Tepatnya di rumah sang ketua ato markasnya PEACE’K. Perjalanan yang cukup mengasyikan dengan angin siang yang lumayan sedikit bikin hati deg-degan dan kerudung melayang-layang, tapi akhirnya sampai juga dengan selamat dan utuh tanpa kekurangan satu pun, malah nambah 1 helm nyantol di kepala yang saya pinjam dari salah satu temennya temen yang kita kunjungi di tengah perjalanan.
Sampai disana disambut dengan 2 orang kawan tulen asli Kediri, tapi yang satu sempat tinggal di Bandung selama 3 tahun sehingga membuatku tidak terlalu merasa termarjinalkan(Catet:LEBAY)sebagai anak sunda tulen yang baru pertama kali menginjakan dan menikmati ketidakmacetan Kediri. Rehat sejenak, sampailah pada satu mangkuk bakso yang kala itu saya berdusta karena makan bakso dengan saus yang lumayan merah dan bikin gag nyaman saat mencicipinya(catet :LEBAY Lagii) tapi saat panas seperti itu membuat satu mangkuk itu habis tak bersisa bahkan bila perlu nambah.. Heheh*heureuy.
Waktunya packing dan merapikan apa-apa yang butuh dan perlu di bawa, mulai dari tenda, matras, kompor for table, arang, sebilah pisau, alat makan dan masak yang simple dan sederhana, galon kecil, dan temen-temannya sekalian. Tak lupa collect Rp. 50.000/orang untuk membeli amunisi mulai dari air minum, bahan untuk barbeque, mie instan, dan tentunya bensin untuk bisa mengantarkan kita ber-12 sampai di tempat tujuan dengan menggunakan 6 motor gag lebih.. IRIT Beeebph..

Tepat setelah selesai menunaikan shalat ashar pada Selasa 31 Desember 2013, kita memulai perjalanan walau yang saat itu langit mulai mendung dan tepat di pom bensin dekat alun-alun Kediri hujan yang lumayan deras sehingga mengharuskan kita semua menggunakan mantel. Aku yang selalu menikamati keberkahan hujan turun tak apa hanya menggunakan jaket anti air yang padahal sampai di Tulungagung tembus pada baju yang aku kenakan. Tapi yang pasti itu bikin perut keroncongan sebelum sampai pada lokasi yang kita tuju. Akhirnya warung sederhana di daerah Tulungagung menjadi pilihan untuk menyantap semangkuk bakso/soto babat plus teh hangat dan jeruk hangat yang mengademkan. Tak perlu keluarin saku lagi, karena dengan Rp.50.000 itu sudah plus makan diperjalanan, kecuali pulang. haha

Lanjut perjalanan menuju Pantai Sanggar yang terletak di Desa Jengglungharjo Kabupaten Tulungagung, walau gerimis tak kunjung berhenti itu tak membuat semangat kami luntur untuk bisa menikmati ke-elokan dan ke-perawanan Pantai Sanggar. Hingga sampailah di titik motor tak diperkenankan lagi jalan setelah kita menembus gerimis meraba jalan dan melewati trek yang berkelok serta sedikit batu yang membuat perjalanan ini semakin bermakna.
Setelah motor kita titip pada warga Desa Jengglungharjo yang sopan, baik hati dan tidak sombong. *Tak salah aku merasa bahwa orang jawa itu baik-baik, apa adanya, dan selalu penuh dengan ketulusan.-Gag jauh beda dengan orang Sunda* Kami langsung mulai mendaki, melewati lembah, dan menikamati setiap tetes gerimis yang menetes pada tubuh ini, di tambah dengan jalanan lumpur yang membuat kami bersyukur punya dua kaki yang masih kuat berjalan. Di seperempat perjalanan kami menemukan warung kopi yang pada saat itu tidak buka, tapi tempat duduknya cukup membuat kami bisa rehat sejenak dan mengambil satu fose….

Lanjut perjalanan yang entah sampainya kapan, masih jauh atau tidak, tidak ada yang tahu, karena semua dari kami itu perjalanan mengunjungi Sanggaria Beach yang pertama, dan insyaallah buatku sekalian yang terakhir juga.. Lah kok..???. Kini tak lagi berjalan dengan menggunakan kedua kaki, tetapi pantat pun menjadi bagian terpenting dalam perjalanan ini. SUPER Sekaliii… tapi asyik kok… Perkiraan kita mulai menelusuri hutan pada Pukul 19:30 dan sampai disana tepat setengah jam sebelum pergantian tahun.
Setelah mendapat tempat berteduh sementara (berupa tempat peng-gergajian kayu) kami langsung nyebur dan mendapat pantai yang elok dengan ombak yang lumayan besar. Tapi tak mengurungkan kami untuk berenang. Itu cukup membuatku nyaman karena sekaligus membersihkan badan dari goresan lumpur. Setelah berenang dilanjutkan dengan merendam diri dengan pasir, merasakan therapy alami dengan memanfaatkan kekuatan pasir yang katanya lumayan bisa membuat badan rilex (belum dapat sumbernya, dapet info dari Mas Ainul ajja) dan sedikit meng-intropeksi diri, memejam mata, dan coba mengukir mimpi baru, resolusi di tahun 2014, dan mencoba menelusuri jalan apa yang harus dilalui dan pasti dilalui dan kemungkinan jalan yang baik yang akan dilalui. Tak lupa 2 batang kembang api menambah ke-elokan Sanggaria Beach malam itu. Kita pun menemui sekitar 4 kemah lain yang berasal dari Surabaya dan daerah lainnya di Jawa Timur.
Dirasa cukup menikmati pijatan pasir putih, Alhamdulillah tidak membuatku gatal, segeralah ku bersihkan kembali walau dengan air laut dan mengambil wudlu untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, dan tak di sangka tenda yang sudah berdiri dan ayam yang sudah di bakar siap ku santap. Keuntungan ketika melakukan camping dengan anggota laki-laki lebih banyak dari perempuan. Wajar dari 12 Calon pribadi sukses itu terdiri dari 10 Arjuna dan 2 srikandi. Padahal aku sudah terbiasa hidup bersusah-susah dan mandiri ketika menyatu dengan alam. Tapi tak urung mengucap syukur atas kesempatan berharga ini.
Ayam bakar yang nikmat, sepotong sosis yang lezat, semangkuk mie instan yang berasa menjadi makakan paling delicious saat itu membuatku tidur nyenyak setelah mengoleskan lotion anti nyamuk untuk berjaga-jaga. Hingga ku terbangun kala cuaca tak lagi gelap dan segera subuh ku tunaikan saat itu juga.

Pagi pertama di Januari 2014 tetap membuat Sanggaria Beach dituruni keberkahan gerimis, tapi sekali lagi itu tak membuat kami mengurungkan untuk menikmati alunan riak ombak dan sesekali mengambil foto bersama, membuat video betapa kami sangat berbangga bisa menikmati kebersamaan ini, betapa hari ini adalah hari yang dinantikan dan penuh dengan kesyukuran, bila perlu kami pamerkan pada dunia betapa Maha Rahman dan Rahim Nya Sang Pencipta telah menyediakan keindahan alam dan mencipta persaudaraan.


Tibalah saatnya kami harus berbenah dan mengambil amunisi nasi, mie, corn chips dan sosis buatan Si ‘Mbah (Sebutan kepada Sang Ketua yang Saya Segani), padahal harusnya cewek yang merasa berkewajiban menyediakan sarapan,,,*MALU SENDIRI.. Dan akhirnya kami mengucap selamat tinggal untuk keindahan pantai sanggar dan eksotisme sungai yang ada di dekat pantai, sungai ini menjadi sumber air tawar yang bisa digunakan untuk membersihkan badan dan mencuci apa-apa yang biasa di cuci. Oia, ternyata eh ternyata, pada pagi itu, ada warga sekitar yang buka warung disitu, dengan saung yang sederhana, Sang Ibu itu menjual berbagai minuman, makanan ringan, wedang jahe yang belum sempat saya cicipi karena belum di-didihkan. Ketika ditanya Ibu berapa jam untuk bisa sampai kesini, She just say: “Setengah Jam”… Jlebbb.. Mantep nian, tapi liat sepatu lumpurnya siap siaga mengantarkannya setiap pagi ke pantai itu.


Kembali menelusuri hutan yang jalannya berlumpur, entah berapa lama kami beristirahat dan meneguk air putih.. Tapi sampai juga di pukul 12:30 di rumah tangga yang semalem dititipi motor. Lagi-lagi sekitar 4 jam kita menghabiskan waktu untuk melewati tanah berlumpur itu. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan berbagai group atau rombongan yang mulai berasal dari Tulungagung sendiri, Blitar, dan daerah lain di jawa Timur. Dan ketika temanku menyapanya, selalu mereka menyanyakan “berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Pantai Sanggar..??/” SELALU. Kami pun diperkenankan untuk ditemukan dengans seorang Petani Desa Jengglungharjo yang memiliki 2 Ha tanah, Sebut namanya Pak Sutrisno, kebaikannya memicu diriku untuk selalu berbuat baik, sekalipun kepada orang yang baru di kenal. Berkat kemurahan hatinya, kami bisa menikamti nangka segar yang langsung di petik dari pohonnya.. I like jackfruit.



Begitulah.. setiap langkah demi langkah selalu mengantarkan kita pada sebuah senyuman yang menyapa, tapi jangan lalai, karena untuk mendapatkan senyum itu sering kali harus dibayar dengan tetesan keringat dan airmata.

See U on Next Trip.. Jus’t Enjoy and get benefit on every travel, Don’t forget too benefit to share



5 komentar:

  1. pas awal baca, ini kayanya mau curhat hati galau tentang cinta. pas liat lagi judulnya tapi tentang pantai hehe, ternyata pas dibaca keseluruhan yang memang menceritakan tentang perjalanan menuju pantai perawan tersebut.
    menurut sari openingnya kurang tepat but over all bagus. :)

    picture dede yang nyemplung ke air sungai, bagus.. :)

    BalasHapus
  2. Hahha...
    ittu latar belakang kenapa perjalanan inni dilakukan...Gag nyambung y..??

    emang asli orangnya fotogenic cii..hatur thankyou buat sang Photografer

    BalasHapus
  3. keren2, mantapzzz lah, ayo kapan kita jalan2 deeeeee??

    BalasHapus